Tipe-Tipe Erupsi Magmatik

Tipe-Tipe Erupsi Magmatik

 

1.Erupsi Hawaiian

 Gambar 1. Erupsi Hawaiian (Sumber : https://i.ytimg.com/vi/POlfvMwDHe4/maxresdefault.jpg)

Erupsi Hawaiian adalah salah satu tipe erupsi gunung api, dinamai dari gunung berapi di Hawaii yang merupakan ciri khas dari letusan di tempat tersebut. Letusan Hawaii adalah jenis peristiwa vulkanik yang paling tenang yang ditandai dengan erupsi yang efusif dari lava tipe basalt dengan kadar gas rendah. Volume bahan terlontar dari letusan Hawaii kurang dari setengahnya ditemukan pada jenis letusan lainnya. Lava cair yang mengalir jauh membentuk gunung berapi yang luas dan landai. Letusan tidak terpusat pada puncak utama seperti pada jenis vulkanik lainnya, melainkan sering terjadi pada vents di sekitar puncak dan fissure vents yang memancar keluar dari pusat.

Letusan Hawaii sering dimulai sebagai sebuah garis erupsi di sepanjang fissure vent, yang disebut “tirai api”. Sementara itu di pusat vent sering terbentuk lava fountain yang dapat mencapai ketinggian ratusan meter atau lebih. Partikel dari lava fountain biasanya mendingin di udara sebelum menyentuh tanah, menghasilkan akumulasi fragmen cindery scoria; Namun ketika udara dipenuhi oleh clast yang tebal, partikel dari lava fountain tidak dapat mendingin dengan cepat karena panas di sekitarnya dan jatuh ke tanah dalam keadaan yang masih panas, akumulasinya akan membentuk spatter cone. Jika kecepatan erupsi cukup tinggi, partikel erupsi mungkin akan membentuk aliran lava splatter-fed. Letusan Hawaii biasanya sangat lama, salah satu contohnya adalah Pu’u O’o, sebuah cinder cone dari Kilauea telah meletus terus menerus sejak tahun 1983. Fitur vulkanik Hawaii lainnya adalah pembentukan aktif lava lake.

 Aliran dari letusan Hawaii bersifat basaltik, dan dapat dibagi menjadi dua jenis oleh karakteristik strukturalnya yaitu Lava Pahoehoe dan Lava A’a. Lava Pahoehoe adalah aliran lava yang relatif halus yang bisa berombak atau ropey. Lava ini dapat bergerak dalam satu lembar, bergerak dalam bentuk “jari kaki” atau sebagai snaking lava column. Lava A’a lebih padat dan lebih kental daripada Lava Pahoehoe, tetapi cenderung bergerak lebih lambat. Ketebalan aliran yang terukur adalah  2- 20 m (7-66 kaki). Aliran A’a begitu tebal sehingga lapisan luarnya mendingin menjadi massa seperti puing-puing, mengisolasi bagian dalam yang masih panas dan mencegahnya mendingin. Lava A’a bergerak dengan cara yang aneh: bagian depan aliran curam karena tekanan dari belakang sampai terputus, setelah itu massa lava di belakangnya bergerak maju. Lava Pahoehoe terkadang bisa menjadi lava A’a karena dapat terjadi peningkatan viskositas, namun lava A’a tidak pernah berubah menjadi Lava Pahoehoe.

 

2.Erupsi Strombolian 

Gambar 2.Erupsi Strombolian (Sumber : https://vanessa-warren-volcanoes.weebly.com/strombolian-eruption.html)

 Letusan strombolian adalah salah satu tipe erupsi gunung berapi, dinamai dari gunung berapi Stromboli, yang telah meletus terus menerus selama berabad-abad. Letusan strombolian dikendalikan oleh ledakan gelembung gas di dalam magma. Gelembung gas di dalam magma menumpuk dan menyatu menjadi gelembung besar, yang disebut slugs. Gelembung ini tumbuh cukup besar untuk naik melalui kolom lava. Saat sampai di permukaan, perbedaan tekanan udara menyebabkan gelembung tersebut meledak dengan suara yang keras, melempar magma ke udara dengan cara yang mirip dengan gelembung sabun. Karena tekanan gas tinggi yang terkait dengan lava, aktivitas lanjutan umumnya berupa letusan eksplosif episodik disertai ledakan keras yang khas. Selama letusan, ledakan ini terjadi setiap beberapa menit.  Istilah “Strombolian” telah digunakan secara sembarang untuk menggambarkan berbagai macam letusan gunung berapi, bervariasi dari ledakan vulkanik kecil hingga kolom letusan besar. Pada kenyataannya, letusan Strombolian yang sebenarnya ditandai oleh letusan lava pendek dan eksplosif dengan viskositas intermediet, sering terlontar tinggi ke udara. Lava yang terbentuk oleh letusan Strombolian adalah bentuk lava basaltik yang relatif kental, dan produk akhirnya kebanyakan bersifat scoria. Karena Letusannya yang relatif dan sifatnya yang tidak merusak ke sumbernya memungkinkan letusan Strombolian berlanjut tanpa henti selama ribuan tahun, dan juga menjadikannya salah satu jenis letusan yang tingkat bahayanya rendah.          

 

 

3.Erupsi Vulcanian 

 

Gambar 3.Erupsi Vulcanian (Sumber : http://www.photovolcanica.com/Pictures_V6/Picture_JAP09_0984.html)

 Letusan Vulcanian adalah salah satu tipe erupsi gunung berapi, dinamai dari gunung berapi Vulcano, yang juga memberi nama pada kata Volcano. Hal tersebut dinamai begitu mengikuti pengamatan Giuseppe Mercalli mengenai erupsi vulcano dari tahun 1888-1890. Dalam letusan Vulcanian, magma yang sangat kental di dalam gunung berapi menyulitkan gas vesikulat untuk meloloskan diri. Mirip dengan letusan Strombolian, hal ini menyebabkan penumpukan tekanan gas tinggi, akhirnya meledakan tutup yang menahan magma dan menghasilkan letusan eksplosif. Namun, tidak seperti letusan Strombolian, fragmen lava yang dikeluarkan tidak bersifat aerodinamis; Hal ini disebabkan oleh viskositas magma Vulcanian yang lebih tinggi dan penggabungan bahan kristal yang berasal dari  tutup magma. Letusan ini juga lebih eksplosif daripada Letusan Strombolian, dengan kolom erupsi mencapai ketinggian 5-10 km ( 3-6 mil). Endapan letusan Vulcanian kebanyakan bersifat andesitik atau dasitik daripada basaltik. Aktivitas Vulcanian awal ditandai oleh serangkaian ledakan berumur pendek, yang berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam dan ditandai dengan dikeluarkannya bom dan blok vulkanik.

 

 

4.Erupsi Pelean 

Gambar 4.Erupsi Pelean (Sumber : http://www.writeopinions.com/pelean-eruption)

 

Erupsi Pelean (atau nuée ardente) adalah salah satu jenis letusan gunung berapi, dinamai dari Gunung Pelée di Martinique, merupakan tempat lokasi letusan Peléan pada tahun 1902 yang merupakan salah satu bencana alam terburuk dalam sejarah. Letusan Pelean melontarkan sejumlah besar debu gas, debu, abu, dan lava dari pusat kawah gunung berapi, hal ini dikendalikan oleh runtuhnya lava dome yang sering membentuk kolom erupsi yang besar. Tanda awal dari letusan pelean adalah tumbuhnya tonjolan di puncak gunung berapi sebelum terjadinya runtuhan total (tumbuhnya kubah lava). Runtuhan disebabkan oleh gunung berapi itu sendiri, membentuk aliran piroklastik yang bergerak cepat (dikenal sebagai aliran blok dan abu) yang bergerak menuruni sisi gunung dengan kecepatan luar biasa, seringkali lebih dari 150 km (93 mil) per jam. Tanah longsor besar ini membuat erupsi pelean merupakan salah satu tipe erupsi yang paling berbahaya di dunia yang mampu menghancurkan daerah penduduk dan menyebabkan korban nyawa secara besar-besaran. Letusan Gunung Pelee pada 1902 menyebabkan kerusakan yang luar biasa, menewaskan lebih dari 30.000 orang dan menghancurkan kota St. Pierre, hal ini merupakan peristiwa vulkanik terburuk di abad ke-20.

 

 

5.Erupsi Plinian

 Gambar 5.Erupsi Plinian (Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Plinian_eruption)

 

Letusan Plinian (atau Vesuvian) adalah salah satu jenis letusan gunung berapi, dinamai dari letusan bersejarah pada tahun 79 dimana Gunung Vesuvius meletus dan mengubur kota Pompeii dan Herculaneum. Proses yang menyebabkan letusan Plinian dimulai di dapur magma, dimana gas volatil terlarut disimpan di dalam magma. Gas mengalami vesikulasi dan terakumulasi selagi magma naik ke atas melalui saluran magma. Gelembung gas mengalami aglutinasi dan sewaktu gelembung mencapai ukuran tertentu (sekitar 75% dari total volume saluran magma) gelembung gas meledak. Saluran magma yang sempit memaksa gas dan magma yang berasosiasi bergerak ke atas dan membentuk kolom erupsi. Kecepatan erupsi dikendalikan oleh konten gas dari kolom erupsi. Batuan di permukaan dengan ketahanan rendah biasanya retak karena tekanan dari letusan, membentuk struktur flared yang mendorong gas lebih cepat dari sebelumnya.

Kolom erupsi yang tinggi adalah ciri khas dari letusan Plinian, dapat mencapai ketinggian 2 – 45 km (1 – 28 mil) dari permukaan tanah. Bagian paling padat dari plume, tepat di atas gunung api, dikendalikan secara internal oleh ekspansi gas. Saat mencapai ketinggian yang lebih tinggi, plume mengembang dan kepadatannya berkurang, konveksi dan ekspansi panas dari abu vulkanik membawa plume lebih tinggi ke stratosfer. Di atas puncak dari plume, angin yang kuat membawa plume menjauhi gunung api.

Letusan eksplosif dari erupsi Plinian berasosiasi dengan lava yang kaya akan unsur dasitik-riolitik, dan paling sering terjadi di gunung api strato. Letusan dapat berlangsung dari hitungan jam hingga hari, letusan yang lebih lama berkaitan dengan lebih banyak magma berunsur felsik. Meskipun letusan plinian biasanya berkaitan dengan magma felsik, letusan Plinian juga dapat terjadi di gunung berapi basaltik, menyebabkan dapur magma mengalami diferensiasi dan memiliki struktur yang kaya akan silikon dioksida.

 Letusan Plinian mirip dengan letusan Vulcanian dan Strombolian, yang membedakannya adalah letusan plinian menghasilkan letusan yang kontinyu (terus menerus). Letusan Plinian juga mirip dengan lava fountain dari letusan Hawaiian. Kawasan yang terkena dampak letusan Plinian yang disebabkan oleh jatuhan pumice berat adalah area seluas 0,5 – 50 km3.Material abu akan jatuh ke tanah, menutupi permukaan dibawahnya dengan lapisan yang tebal yang volumenya dapat mencapai kilometer kubik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *