Ada Apa Dengan Gunung Tangkuban Parahu?

           Gunung Tangkuban Parahu berlokasi di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang. Kali pertama terjadi letusan yaitu pada tahun 1829 dan terjadi lagi pada Februari 2013 dan Oktober 2017. Erupsi kembali terjadi pada Jumat (26/07) sore pukul 15.48 WIB. Amplitudo maksimum gempa letusan 38 mm selama 5 menit 30 detik. Letusan disertai suara gemuruh dan kepulan kolom abu tebal kehitaman (dominan pasir) mencapai ketinggian 200 m dari dasar kawah. Tanda-tanda sebelum letusan terjadi adalah tercatat dalam data pemantauan yaitu visual, kegempaan, deformasi, dan kimia gas sudah teramati adanya peningkatan.

Kawah Ratu, Sumber : tirto.id

           Sepanjang catatan erupsinya, Gunung Tangkuban Parahu tidak pernah mengalami erupsi magmatik besar namun hanya sebatas erupsi kecil yang memicu terjadinya lahar. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan bahwa erupsi Gunung Tangkuban Parahu merupakan erupsi eksposif berintensitas kecil yang terkadang disertai erupsi tiba-tiba tanpa diawali oleh gejala vulkanik yang jelas atau biasa dikenal dengan erupsi freatik. Jarak letusan berkisar 2 hingga 50 tahun.

            Erupsi freatik terjadi karena adanya dorongan tekanan uap air akibat kontak massa dengan air di bawah kawah. Ada beberapa bahaya yang ditimbulkan dari letusan freatik. Letusan ini mengeluarkan karbon dioksida dan hidrogen sulfida yang merupakan jenis gas beracun. Bahaya lainnya dari letusan freatik adalah partikel batu yang dibawa bisa menjadi ancaman bagi masyarakat sekitar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan jenis letusan ini dapat terjadi kapan saja pada gunung berapi aktif.

            Suplai magma dari bawah permukaan, terdiri dari 3 komponen, yaitu air, gas, dan batuan. Uap air dan gas menjadi komponen dominan yang keluar dari Gunung Tangkuban Parahu. Adanya hembusan asap putih dari dasar Kawah Ratu juga mengindikasikan dominansi uap air yang keluar tanpa disertai batuan. Penampakan dari pos pengamatan Gunung Api Tangkuban Parahu dengan radius 2 km pada 24 jam pertama setelah letusan, tidak mendeteksi adanya hujan abu di sekitarnya dan erupsi sudah menurun.

Erupsi Gunung Tangkuban Parahu tidak ditandai dengan peningkatan gempa-gempa vulkanik. Gempa ini mengindikasikan adanya peningkatan kegiatan yang menjurus kepada erupsi. Sebelum erupsi terjadi, gempa yang terekam merupakan gempa hembusan. Gempa vulkanik memiliki magnitudo lebih kecil yang berasal dari tubuh gunung api. Umumnya gempa tidak terasa oleh masyarakat sekitar.

            Untuk mengantisipasi terjadinya erupsi susulan, PVMBG melakukan pemantauan secara menerus dengan memasang alat pemantauan kegempaan dan alat pemantauan deformasi yang datanya direkam selama 24 jam. Data tersebut kemudian dievaluasi dengan data-data sebelumnya. Jika terjadi gejala peningkatan, PVMBG akan mendeteksi dan memberikan peringatan dini apakah peningkatan tersebut berpotensi terjadi erupsi atau tidak.

Sumber :

Jurnal Laporan Mingguan Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi Periode 22-28 Juli 2019. KESDM; Badan Geologi diakses http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/kegiatan-pvmbg/berita-harian-kebencanaan-geologi/2583-jurnal-laporan-mingguan-pusat-vulkanologi-dan-mitigasi-bencana-geologi-periode-22-28-juli-2019 pada 29 Juli 2019

Sejarah Gunung Tangkuban Perahu, Pernah Erupsi Hebat 200 Tahun yang Lalu – iNews Sore 27/07 diakses https://youtu.be/E7JndZtiDzg pada 27 Juli 2019

Gunung Tangkuban Parahu Tak Pernah Erupsi Magmatik Besar – NET 24, Official NET  News, diakses https://youtu.be/ieGKxPWv76g pada 27 Juli 2019

Erupsi Gunung Tangkuban Parahu Menurun, Berita Satu, diakses https://youtu.be/QCqYf1p9g0 pada 27 Juli 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *