Artikel Geologi #1

Mengingat kembali gempa tektonik berkekuatan Mw 7,7 (USGS,2006) yang terjadi pada tanggal 17 Juli 2006 berpusat di selatan Jawa Barat dengan kedalaman 10 km di bawah dasar laut. Gempa ini telah mengakibatkan tsunami setinggi 3,4 meter yang melanda kawasan Pantai Pangandaran dan telah merenggut korban setidaknya ratusan jiwa, bahkan akibat dari gempa ini telah mengakibatkan tsunami yang melanda sepanjang pesisir selatan Jawa Barat hingga Yogyakarta dan sekitarnya (G. Suantika, drr, 2006).

            Kawasan pantai selatan Yogyakarta secara tektonik merupakan salah satu daerah dengan tingkat seismistas tinggi dan aktif. Terlebih perairan pantai selatan Yogyakarta termasuk wilayah pesisir pantai selatan Jawa merupakan perairan terbuka (open sea). Mengacu kepada klasifikasi yang dijelaskan oleh Dolan drr. (1975), karakteristik pantai selatan Yogyakarta dibagi menjadi 2 (dua) tipe, yaitu :

  • Pantai Tipe 1 yaitu Parangtritis ke arah timur hingga Teluk Sadeng memiliki kenampakan morfologi yang membentuk teluk dan kantong pantai (pocket sand).
  • Pantai Tipe 2 yaitu daerah Parangtritis ke arah barat hingga Pantai Congot memiliki garis pantai yang lurus

Gambar 1. Peta Karakteristik Pantai Selatan Jawa

 

Pantai Tipe 1 yang meliputi kawasan sepanjang pantai dari ujung timur (Teluk Sadeng) hingga Parangtritis, dicirikan oleh pantai berpasir putih dimana jenis pasir ini dihasilkan dari rombakan batugamping terumbu (coraline limestone), selain itu dicirikan lagi dengan bentukan topografi karst dengan relief tinggi dan membentuk tebing curam, garis pantai berkelok membentuk teluk (embayment beach) dan tanjung kecil. Morfologi daerahnya bergelombang hingga kasar dengan relief menengah hingga tinggi. Kemiringan pantai relatif landai dengan lebar dan panjang pantai yang relatif sempit. Pada pantai tipe 1, pemanfaatan lahan umumnya adalah daerah wisata pantai, dan tempat aktifitas nelayan. Perahu yang berada di sekitar pantai milik warga tidak tertambat dengan kuat sehingga akan mudah terhempas apabila ada gelombang datang, ditambah vegetasi penutup pantai yang jarang tumbuh di pinggir pantai, sehingga ketika dilanda tsunami akan besar kemungkinan mengenai bangunan dan rumah rumah penduduk.

                  Pada  pantai tipe 2, daerah pantai ini dicirikan oleh sedimen lepas penyusun berupa pasir abu-abu kehitaman yang merupakan hasil rombakan dari batuan produk gunungapi. Morfologi daerahnya landai dengan relief yang rendah. Bentuk garis pantai lurus, dicirikan dengan gumuk gumuk pasir yang terdapat di pinggir pantai. Pada pantai tipe 2 ini, penduduk memanfaatkan lahan pantai sebagai daerah kunjungan wisata, namun penduduk mendirikan bangunan wisata dan pemukiman yang jauh dari garis pantai dan berada di belakang gumuk pasir. Daerah ini juga ditumbuhi oleh Vegetasi penutup pandan pantai yang tumbuh menjalar dan semak semak yang cukup rimbun.

Gambar 2 dan 3. Teluk Sadeng (kiri) yang mempunyai ciri Pantai Tipe 1 dimana dicirikan dengan pantai berpasir putih dan berbentuk kantung dan Pantai Parangtritis (kanan) dengan litologi penyusunnya pasir abu-abu kehitaman mencirikan pantai tipe 2.

Secara umum pola kontur kedalaman dasar laut daerah selatan Yogyakarta mengikuti pola garis pantai dengan kenaikan kontur yang gradual. Pada bagian barat pola kontur kedalamannya memperlihatkan kerapatan yang relatif jarang ke arah pantai dan semakin rapat ke arah lepas pantai, pola tersebut menunjukkan morfologi dasar laut sebelah barat cukup landai dan semakin curam ke arah lepas pantai. Sedangkan pada daerah timur peta menujukkan keterbalikan dari bagian barat dimana pada bagian timur menunjukkan morfologi cukup terjal di dekat pantai dan ke arah lepas pantai morfologi relatif landai.

 

Gambar 4. Peta Kedalaman Dasar Laut Kawasan Pantai Selatan Yogyakarta

                  Dalam pengaruhnya, kecepatan tsunami sangat dipengaruhi oleh kedalaman dasar laut (Batimetri). Pada kedalaman sangat dalam kecepatan tsunami dapat mencapai ratusan hingga ribuan kilometer per jam dengan amplitudo (tinggi gelombang) yang kecil, namun ketika pada perairan dangkal kecepatannya akan berkurang sedangkan amplitudonya semakin tinggi. Dari hal tersebut, perlu diwaspadai pada kawasan Parangendong ke arah timur hingga Sadeng karena berpotensi menimbulkan kecepatan rambat gelombang Tsunami yang lebih besar.

                 

Gambar 5.  Sebaran Ketinggian Tsunami pada daerah selatan Yogyakarta

                  Didapatkan kesimpulan bahwa pengaruh morfologi pantai dan kedalaman batimetri sangat berpengaruh dalam zona mitigasi bencana tsunami pada lepas pantai Yogyakarta. Zona dengan tingkat kerawanan bencana tsunami tertinggi didapatkan pada bagian timur pantai Yogyakarta khususnya pada darah yang berbentuk teluk dan kantong-kantong pantai yang meliputi kawasan sepanjang pantai mulai dari Parangendong ke arah timur hingga Pantai Sadeng. Pada daerah ini terdapat potensi penumpukan energi gelombang Tsunami, sehingga berpotensi memiliki ketinggian gelombang yang cukup besar dibandingkan dengan daerah garis pantai lurus. Kerentanan tsunami rendah adalah daerah dengan elevasi ketinggian relatif tinggi di atas mukalaut, diperlihatkan oleh perbukitan yang terbentuk oleh morfologi sepanjang pantai atau perbukitan yang terdapat di belakang pantai.

_______________________________________________________________________________

Referensi

Bemmelen, R.W., van, 1949, The Geology of Indonesia. Vol. 1, The Hague, P. 194-213

Dolan. R, Hayden, B.P. and Vincent, M.K., 1975,Classification of Coastal Landform of the America Zeithschr Geomorphology In Encyclopedia of Beaches and Coastal Environments, P. 72-88.

Mustafa, M. A., & Yudhicara. (2007). Karakteristik Pantai Dan Resiko Tsunami Pantai Selatan Yogyakarta. Jurnal Geologi Kelautan.

Suantika, G., Putranto, E.T., Yudhicara, dan Akhmad Solikhin, 2006, Laporan Tanggap Darurat Gempabumi Selatan Jawa Barat 17 Juli 2006, Laporan Intern Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

U.S. Geological Survey, 2006, Real Time Earthquake and Focal Mechanism Solution for Java Earthquake, 17 July 2006, www.earthquake.usgs.gov

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *