Artikel Geologic : Kerentanan Tanah sebagai Dasar Mitigasi Tanah Longsor di Indonesia

Kerentanan Tanah sebagai Dasar Mitigasi Tanah Longsor di Indonesia
Moh. Alfariji
Teknik Geologi Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta

A. Latar Belakang dan Analisis Masalah Indonesia merupakan salah satu negara yang sering terjadi tanah longsor.Menurut Suprapto Dibyosaputra (1992) tanah longsor adalah salah satu tipe gerakanmassa batuan dan tanah menuruni lereng akibat gaya gravitasi bumi. Terdapat 918lokasi rentan longsor yang tersebar diberbagai wilayah diantaranya jawa tengah 327lokasi, jawa barat 276 lokasi, Sumatra barat 100 lokasi, Sumatra utara 53 lokasi,Yogyakarta 30 lokasi, Kalimantan 23 lokasi, sisanya tersebar di NTT, Riau,Kalimantan Timur, Bali dan Jawa Timur (BNPB, 2012).Faktor Kerentanan tanah longsor menurut Paimin (2009) terdapat dua faktoryaitu faktor alami dan menejemen. Faktor alami diantaranya 1) curah hujan hariankumulatif tiga hari berturut-turut. 2) kemiringan lahan, 3) geologi/batuan, 4)keberadaan patahan/gawir, 5) kedalaman tanah sampai lapisan kedap ; sedangkan darifaktor manajemen diantaranya: 1) penggunaan lahan, 2) infrakstruktur, 3)kepemadatan pemukiman.
B. Solusi
Kondisi lahan yang berpotensi besar terhadap bencana longsor diperlukan mitigasiyang tepat. Hal pertama yang dapat dilakukan adalah dengan memantau curah hujan,karena curah hujan sangat berpengaruh terhadap longsoran. Menurut Paimin (2009),curah hujan yang perlu diwaspadai pada daerah rentan longsor adalah >300 mm/3 hari.Sehingga apabila terjadi curah hujan tinggi diharapkan dapat menjadi dasar peringatandini bagi masyarakat yang tinggal pada daerah yang rentan tanah longsorLangkah selanjutnya adalah perlunya mitigasi secara teknis pada daerah yangberpotensi rentan longsor seperti:
1. Pembuatan dinding penahan pada lerengDalam pembuatan dinding penahan biasanya pada lereng-lereng yang rawanlongsor atau tidak stabil. Dalam pembuatan tidak boleh asal buat, tetapi perludilihat secara geologi agar dinding penahan mampu menahan secara maksimal.Salah satu contoh yang pernah terjadi di Kelurahan Ratujaya KecamatanCipayung Kota Depok akhirnya dinding penahan ikut longsor. Jadi dalam pembuatan dinding penahan harus diperhatiakan kondisi geologinya sebagaiberikut:
➢ Dilarang pada bidang yang terkena struktur geologi


Hal ini karena daerah yang mengalami patahan akan lebih mudah
longsor karena bidangnya sudah bergeser. Sehingga ada bidang lemah
yang dibentuk akibat adanya patahan.

➢ Bilamana litologi memiliki sifat menyerap air dan curah hujan tinggi

2. konsevasi lereng

Lereng yang curam dengan kemiringan yang tinggi (>45%) akan meningkatkanpotensi terjadinya longsor. Untuk itu mitigasi perlu dilakukan dengan caramengurangi volum air yang masuk ke dalam tanah, karena air akan merembas kedalam tanah dan sangat berbahaya. Menurut Hardiyatmoko (2016)menyampaikan bahwa untuk meningkatkan stabilitas lereng perlu dilakukandengan perubahan geometri lereng yaitu dengan pelandaian kemiringanlereng,seperti pembuatan teras bangku dan mengontrol drainase serta rembesanair.

3. Penanaman vegetasi pada daerah rawan longsor

Pohon yang ditanam harus memiliki kriteria mampu menyerap air. Hal ini untukmengurangi kandungan air berlebihan. Menurut Kepala Bidang ProduksiTanaman Provinsi Jawa Timur (20/04/2017) menghimbau larangan tanamanyang susah menyerap air atau tanaman yang bersifat membongkar tanah ketikapanen seperti jahe dan ubi. Contoh kasus longsoran pada kebun jahe yang terjadidi Ponorogo. Hal ini membuktikan bahwa perlu tanaman yang cocok dan sesuaiseperti lamtoro, glereside, dan flemingia untuk memperkuat kontur tanah.4. Pembuatan dan perbaikan drainasePembuatan dan perbaikan drainase bertujuan agar air terkonsentrasi dalam suatuwadah dan dialirkan secara teratur untuk mencegah air tergenang disuatu tempatdan merembas ke lapisan tanah dibawahnya. Hal ini sangat berbahaya apabiladibiarkan secara terus menerus pada daerah rawan longsor.Tahapan yang harus dilakukan selanjutnya adalah mitigasi secara non teknis yangharus dilakukan oleh pemerintah serta masyarakat untuk memaksimalkan mitigasi,yaitu berupa:1. Sosialisasi tentang bahaya tanah longsor seperti: 1. Pembuatan dinding penahan pada lerengDalam pembuatan dinding penahan biasanya pada lereng-lereng yang rawanlongsor atau tidak stabil. Dalam pembuatan tidak boleh asal buat, tetapi perludilihat secara geologi agar dinding penahan mampu menahan secara maksimal.Salah satu contoh yang pernah terjadi di Kelurahan Ratujaya KecamatanCipayung Kota Depok akhirnya dinding penahan ikut longsor. Jadi dalam pembuatan dinding penahan harus diperhatiakan kondisi geologinya sebagaiberikut:

➢ Dilarang pada bidang yang terkena struktur geologiHal ini karena daerah yang mengalami patahan akan lebih mudahlongsor karena bidangnya sudah bergeser. Sehingga ada bidang lemahyang dibentuk akibat adanya patahan.

➢ Bilamana litologi memiliki sifat menyerap air dan curah hujan tinggilitologi batupasir yang memiliki sifat mampu menyerap sangatberbahaya apabila terkena air hujan secara menerus. Hujan denganintensitas tinggi akan membawa material yang akan dilongsorkansecara langsung maupun perlahan. Untuk itu dalam pembuatan dindingpenahan diberi peralon ukuran kecil sebagai saluran air agar dindingtetap stabil. Pada bagian bawah dinding penahan dibuat agak tebalbertujuan untuk mengantisipasi rembesan air yang terus kebawah danterkonsentrasi pada lapisan batupasir hingga jenuh air sehinggaberpotensi adanya likuifaksi yang mengakibatkan longsor apabila adagempa.2. konsevasi lerengLereng yang curam dengan kemiringan yang tinggi (>45%) akan meningkatkanpotensi terjadinya longsor. Untuk itu mitigasi perlu dilakukan dengan caramengurangi volum air yang masuk ke dalam tanah, karena air akan merembas kedalam tanah dan sangat berbahaya. Menurut Hardiyatmoko (2016)menyampaikan bahwa untuk meningkatkan stabilitas lereng perlu dilakukandengan perubahan geometri lereng yaitu dengan pelandaian kemiringanlereng,seperti pembuatan teras bangku dan mengontrol drainase serta rembesanair.3. Penanaman vegetasi pada daerah rawan longsorPohon yang ditanam harus memiliki kriteria mampu menyerap air. Hal ini untukmengurangi kandungan air berlebihan. Menurut Kepala Bidang ProduksiTanaman Provinsi Jawa Timur (20/04/2017) menghimbau larangan tanamanyang susah menyerap air atau tanaman yang bersifat membongkar tanah ketikapanen seperti jahe dan ubi. Contoh kasus longsoran pada kebun jahe yang terjadidi Ponorogo. Hal ini membuktikan bahwa perlu tanaman yang cocok dan sesuaiseperti lamtoro, glereside, dan flemingia untuk memperkuat kontur tanah.

4. Pembuatan dan perbaikan drainase

Pembuatan dan perbaikan drainase bertujuan agar air terkonsentrasi dalam suatuwadah dan dialirkan secara teratur untuk mencegah air tergenang disuatu tempatdan merembas ke lapisan tanah dibawahnya. Hal ini sangat berbahaya apabiladibiarkan secara terus menerus pada daerah rawan longsor.Tahapan yang harus dilakukan selanjutnya adalah mitigasi secara non teknis yangharus dilakukan oleh pemerintah serta masyarakat untuk memaksimalkan mitigasi,yaitu berupa:

1. Sosialisasi tentang bahaya tanah longsor

Sosialisasi ini perlu dilakukan mengingat masyarakat Indonesia masih banyakyang belum sadar. Harapan dengan adanya sosialisasi dapat menumbuhkansadar bencana.

2. Membentuk Kelompok Siaga Bencana(KSB) Keberadaan

KSB aktif dan efektif sangat penting untuk mengurangi resikobencana dimasyarakat dalam aspek kesiapsiagaan dan membantu pemerintah dalam manejemen bencana lebih baik. Hal ini perlu karena mengingatmasyarakat adalah pihak pertama yang merasakan langsung dampak daribencana. Pembentukan KSB juga pernah diterapkan di Padang dan yang masihmenjadi andalan adalah KSB ‘Limau Manis’ yang berada disuatu kelurahan diKecamatan Pauh.3. Membuat peta atau rambu-rambu peringatan pada daerah rawan longsorPembuatan rambu-rambu rawan longsor yang dipasang pada daerah-daerahtertentu akan membantu meningkatkan kewaspadaan dan selalu berhati-hati.Pemasangan rambu sudah banyak dilakukan oleh pemerintah salah satunya diCilacap. BPBD Cilacap telah memasang hampir 223 rambu peringatan padadaerah rawan longsor yang tersebar pada 5 kecamatan yaitu Karangpucung,Cimanggu, Majenang, Wanareja, dan Dayeuhluhur4. Dilarang membuat rumah atau bangunan pada daerah yang rawan longsorLarangan ini juga pernah diutarakan langsung oleh Kepala Pusat Data danInformasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengimbau pemerintah tidakmemberikan izin mendirikan bangunan di titik-titik rawan longsor untukmenekan angka kejadian.

Daftar Pustaka

Cita I. 2008. Implementasi Aplikasi Sistem Informasi Geografis Universitas Indonesia
Berbasis Web Dengan Menggunakan Google Maps API. 7.
Khambali, I. 2017. Manajemen Penanggulangan Bencana. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Kurniasari, N. 2016. Kajian Tingkat Kesadaran Masyarakat Terhadap Mitigasi bencana
Tanah Longsor di Kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara tahun 2015. 5.
Naryanto, H. S. 2011. Analisis Kondisi Bawah Permukaan dan Disiko Bencana Tanah
Longsot Untuk Arahan Penataan Kawasan di Desa Tenglik Kecamatan Tawangmangu
Kabupaten Karanganayr Jawa Tengah. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 13, No. 2.
74.
Priambodo, S. A. 2009. Panduan Praktis Menghadapi Bencana: Badai, Banjir, Gempa
Bumi, Letusan Gunung Api, Kerusuhan Massal, Teror Bom, Kebakaran, Polusi Lingkungan.
Yogyakarta: Kanisius.
Rahman, A. 2010. Penggunaan Sistim Informasi Geografis Untuk Pemetaan Kerawanan
Longsor di Kabupaten Purworejo. Jurnal Bumi Lestari, Volume 10 No. 2. 194.
Salita, D. C. 2002. Enviromental Geography. Inc. Quezon: Goodwill Trading Co.
Tondobala, L. 2011. Pemahaman Tentang Kawasan Rawan Bencana dan Tinjauan
Terhadap Kebijakan dan Peraturan Terkait. Jurnal Sabua Vol.3, No.1: 58-63. 59
Wiloto, C. 2008. Behind Indonesia’s Headline: Mengungkap Cerita di Balik Berita: 50
Kasus Asli Indonesia. PowerPR Global Pub.
http://kabar24.bisnis.com/read/20180306/15/746445/mitigasi-penting-karena-duabulan-pertama-2018-sudah-terjadi-513-bencana pada 30 Agustus 2018.
http://news.solopos.com/read/20180806/496/932245/korban-meninggal-gempalombok-82-orang pada 30 agustus 2018.
https://tirto.id/inilah-yang-terjadi-saat-gempa-lembang-menghantam-bandung-cyE6
pada 30 Agustus 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *