Artikel Geologic : Mengoptimalkan Mitigasi Bencana Alam Akibat Proses Diastropisme Melalui Peran Geologi Dalam Pengaplikasian Geographic Information System (GIS)

Mengoptimalkan Mitigasi Bencana Alam Akibat Proses Diastropisme Melalui PeranGeologi Dalam Pengaplikasian Geographic Information System (GIS)

Muhammad Rayhan Nauval Narawangsa

Geologi Universitas Indonesia

Indonesia terkenal sebagai negara dengan potensi bencana alam yang cenderung tinggi.Lokasi geografis, sejarah geologi, dan jumlah populasi manusia, merupakan salah satu faktorsignifikan yang melatarbelakangi kondisi tersebut. Menurut Priambodo (2009), bencana adalahsuatu kejadian alam, buatan manusia, atau perpaduan keduanya yang terjadi secara tiba-tibasehingga menimbulkan dampak negatif yang dahsyat bagi kelangsungan kehidupan. Tingginyapotensi bencana ini disebabkan oleh negara kita yang terbentuk dari tiga lempeng yang sampaisaat ini masih terus melakukan pergerakannya masing-masing (Wiloto, 2008). Pergerakanlempeng ini lah yang disebut sebagai diastropisme. Diastropisme menurut Salita (2002) adalahsegala gerakan dari lapisan kerak bumi baik secara vertikal, horizontal, atau arah lainnya yangmengakibatkan perpindahan posisi tanah. Perpindahan ini dalam skala besar tentunya memilikipotensi bencana yang cukup tinggi. Diantara potensi bencana tersebut adalah gempa bumi dantanah longsor. Selain faktor alam, terdapat faktor lain seperti faktor sosial yang berperan besarterhadap dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam. Indonesia merupakan salah satu negaradengan penduduk terbanyak di dunia. Berdasarkan data terbaru The Spectator Index, Indonesiaberada pada urutan keempat dibawah Amerika Serikat dan diatas Brazil dengan jumlah 265 jutajiwa. Meminimalisir dampak negatif bencana alam merupakapaling aktif di Indonesia, kebanyakan kondisi bangunan diatasnya justru cenderung rawanterhadap potensi bahaya yang ditimbulkan gempa bumi. Ahli rekayasa gempa InstitutTeknologi Bandung, Prof. Adang Surahman, menyatakan bahwa jumlah gedung tahan gempadi daerah ini hanya 15 persen dari total jumlah gedung rancangan insinyur seluruhnya. Keduacontoh tersebut seakan membuktikan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia terhadappentingnya mitigasi bencana cenderung masih rendah.Gempa bumi menurut Salita (2002) adalah getaran yang disebabkan oleh pergerakanpada lapisan kerak. Sedangkan tanah longsor menurut Naryanto (2011) adalah gerakan massabatuan atau tanah pada suatu lereng karena pengaruh gaya gravitasi. Kedua bencana inimerupakan jenis bencana alam yang rawan terjadi di Indonesia dan sudah seharusnya menjadibagian dari fokus masyarakat untuk melakukan mitigasi. Mitigasi merupakan segala upayayang dilakukan untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan oleh suatu bencana (Khambali2015). Sebagai ilmu yang berkaitan langsung dengan segala proses pembentukan alam, ilmugeologi sangat berperan penting dalam pelaksanaan mitigasi tersebut. Ilmu geologi dapatditerapkan pada berbagai bidang seperti melalui pendidikan dan teknologi. Hal ini diperlukanagar tercipta kesadaran masyarakat tentang pentingnya proses mitigasi bencana. Denganmemiliki kesadaran tersebut, seseorang dapat mempelajari hal yang harus dilakukan dandihindari ketika suatu bencana terjadi (Kurniasari, 2016). Sebagai kombinasi bidang pendidikandan teknologi, salah satu cara paling tepat adalah dengan mengaplikasikan ilmu geologi dalampendidikan kebencanaan melalui penggunaan GIS.GIS atau Geographic Information System merupakan sistem infomasi berbasiskomputer yang menggabungkan unsur peta dan informasi mengenai peta tersebut.Penggunaannya adalah untuk melakukan perencanaan pembangunan lingkungan, mengolahdata spasial, dan meneliti permasalahan dalam kawasan tertentu (Mufidah, 2006). PenggunaanGIS dapat menghasilkan jenis produk yang beragam. Diantaranya adalah berbagai jenis petaseperti peta geologi, peta topografi, dan peta geomorfologi yang memiliki kegunaannyamasing-masing. Melalui parameter tertentu, ilmu geologi dapat digunakan untukmenginterpretasi potensi bencana pada suatu kawasan dengan mengacu pada peta-peta tersebut.Produk yang dihasilkan melalui interpretasi ini adalah peta indeks resiko bencana yang dibuatsecara akurat. Parameter yang digunakan tergantung pada jenis bencana yang menjadi targetinterpretasinya. Dalam pembuatan peta indeks resiko bencana yang disebabkan prosesdiastropisme, aspek geologi seperti litologi, keterdapatan struktur, dan tata guna lahanmerupakan parameter yang perlu diperhitungkan. Parameter-parameter tersebut dapat secarapesat meningkatkan potensi bahaya yang disebabkan oleh bencana sebagai hasil dari proses pergerakan lempeng. Parameter dalam hal ini dapat berasal dari kondisi alam atau aktivitasmanusia. Parameter-parameter tersebut dapat diinterpretasi menjadi berbagai macam petasebagai pertimbangan pembuatan peta indeks risiko bencana. Tidak seperti gempa bumi yangketerjadiannya murni disebabkan kondisi alam, tanah longsor merupakan jenis bencana yangbanyak dipengaruhi oleh faktor aktivitas manusia. Karenanya dibanding peta rawan gempa,pembuatan peta rawan tanah longsor memiliki parameter yang cenderung lebih banyak.

 

Gambar 1. Alur Pembuatan Peta Rawan Longsor

Sumber: Taufik dalam Rahman, 2010.

Mitigasi bencana merupakan hal yang penting bagi masyarakat Indonesia. Identifikasipotensi bencana pada suatu kawasan bertujuan untuk memberikan kesiapan kepada masyarakatbilamana suatu bencana terjadi. Agar masyarakat memiliki kesadaran tentang pentingnyakesiapan tersebut, peta rawan bencana harus dibuat secara rinci, aktual, dan harus bisadidapatkan dengan mudah. Pemanfaatan aplikasi smartphone untuk menunjukkan tingkatresiko bencana terhadap suatu kawasan dan berbagai media di internet dapat menjadi solusitepat untuk merealisasikan syarat tersebut. Dengan mempersiapkan peta indeks risiko bencanadan parameter-parameter lain sebagai hasil dari aktivitas manusia, masyarakat akan lebih sadarmengenai resiko dari aktivitas yang mereka lakukan terhadap potensi bencana yang dapatterjadi. Agar prosesnya berlangsung secara optimal, semua pihak harus turut bekerja samadalam merealisasikan proses tersebut. Geologi berperan sebagai landasan berpikir dalampenggunaan GIS untuk mengukur potensi bencana dari suatu kawasan. Masyarakat harusdengan mudah mendapatkan hasil dari interpretasi ini agar kesadaran terhadap pentingnyamitigasi bencana dapat menjadi budaya yang diingat sepanjang masa. Untuk merealisasikan budaya mitigasi bencana, masyarakat memerlukan lebih dari sekedar pendidikan atausosialisasi semata. Jika ditinjau dari apa yang dikatakan oleh filsuf dunia Aristoteles,“Educating the mind without educating the heart is not education at all”. Pendidikan atauteknologi mitigasi bencana tidak akan efektif jika masyarakat sendiri tidak memiliki kemauanatau kesadaran untuk memahami pentingnya proses tersebut.

 

Daftar Pustaka

  • Cita I. 2008. Implementasi Aplikasi Sistem Informasi Geografis Universitas Indonesia
    Berbasis Web Dengan Menggunakan Google Maps API. 7.
  • Khambali, I. 2017. Manajemen Penanggulangan Bencana. Yogyakarta: Penerbit Andi.
  • Kurniasari, N. 2016. Kajian Tingkat Kesadaran Masyarakat Terhadap Mitigasi bencana
    Tanah Longsor di Kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara tahun 2015. 5.
  • Naryanto, H. S. 2011. Analisis Kondisi Bawah Permukaan dan Disiko Bencana Tanah
    Longsot Untuk Arahan Penataan Kawasan di Desa Tenglik Kecamatan Tawangmangu
    Kabupaten Karanganayr Jawa Tengah. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 13, No. 2.
    74.
  • Priambodo, S. A. 2009. Panduan Praktis Menghadapi Bencana: Badai, Banjir, Gempa
    Bumi, Letusan Gunung Api, Kerusuhan Massal, Teror Bom, Kebakaran, Polusi Lingkungan.
    Yogyakarta: Kanisius.
  • Rahman, A. 2010. Penggunaan Sistim Informasi Geografis Untuk Pemetaan Kerawanan
    Longsor di Kabupaten Purworejo. Jurnal Bumi Lestari, Volume 10 No. 2. 194.
  • Salita, D. C. 2002. Enviromental Geography. Inc. Quezon: Goodwill Trading Co.
  • Tondobala, L. 2011. Pemahaman Tentang Kawasan Rawan Bencana dan Tinjauan
    Terhadap Kebijakan dan Peraturan Terkait. Jurnal Sabua Vol.3, No.1: 58-63. 59
  • Wiloto, C. 2008. Behind Indonesia’s Headline: Mengungkap Cerita di Balik Berita: 50
    Kasus Asli Indonesia. PowerPR Global Pub.
    http://kabar24.bisnis.com/read/20180306/15/746445/mitigasi-penting-karena-duabulan-pertama-2018-sudah-terjadi-513-bencana pada 30 Agustus 2018.
    http://news.solopos.com/read/20180806/496/932245/korban-meninggal-gempalombok-82-orang pada 30 agustus 2018.
    https://tirto.id/inilah-yang-terjadi-saat-gempa-lembang-menghantam-bandung-cyE6
    pada 30 Agustus 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *